BELANDA DATANG LAGI!!!
Setelah jepang menyerah kepada sekutu pada perang dunia II, Indonesia yang pada saat itu masih menjadi wilayah jajahan negeri sakura pun mengalami vacum of power atau kekosongan kekuasaan. Hal tersebut dimanfaatkan golongan muda untuk mendesak golongan tua agar segera memproklamasikan kemerdekaan hingga akhirnya pada 17 Agustus 1945,Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Rupanya setelah Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia,hal ini tidaklah menjamin bahwa Indonesia sudah benar-benar terbebas dari segala bentuk penjajahan.
DATANGNYA SEKUTU DAN NICA DI INDONESIA
Setelah sekutu berhasil menang dalam perang dunia II,pasukan sekutu yang mendapat tugas untuk datang ke Indonesia adalah tentara Inggris. Sekutu membagi 2 daerah operasi. Pertama South East Asia Command/SEAC dimana sumatera sebagai daerah operasinya dan yang kedua adalah South West Pacific Command/SWPC dimana Jawa dan Indonesia bagian timur termasuk ke dalam daerah operasinya. Namun setelah Perang dunia II berakhir,terjadi perubahan daerah operasi. Hasil Konferensi Gabungan Kepala Staff Sekutu diputuskannya bahwa seluruh wilayah Indonesia dijadikan daerah opsi SEAC. Adapun untuk Indonesia sendiri dibentuk komando khusus yaitu AFNEI. Pada awalnya AFNEI ditugaskan untuk melancarkan operasi militer namun Jepang sudah menyerah sehingga tugas AFNEI dialihkan menjadi tugas administratif di antaranya menerima penyerahan Jepang,membebaskan para tawanan perang Jepang yang berasal dari eropa,melucuti tentara Jepang,menegakkan perdamaian dan mencari informasi tentang penjahat perang Jepang yang akan diserahkan ke pemerintahan sipil.
Pada 29 September 1945 rombongan pertama AFNEI mendarat di Tanjung Priok sampai pada akhir oktober 1945 sekutu berhasil mendarat di tiga kota pelabuhan utama di Sumaterya yaitu Medan,Padang,dan Palembang. Kedatangan AFNEI disambut baik dengan rakyat Indonesia karena mereka mengetahui bahwa tugas AFNEI hanyalah untuk membebaskan tawanan perang dan melucuti tentara Jepang. AFNEI juga tidak akan ikut mencampuri urusan politik dalam negeri. Akan tetapi setelah NICA mempersenjatai kembali KNIL dimana NICA dan KNIL tersebut didukung oleh sekutu untuk melancarkan provokasi dan teror terhadap pemimpin nasional bangsa Indoneisa, respon bangsa Indonesia pun semakin curiga bahwa Belanda akan kembali menguasai Indonesia. Hal ini sangat memperburuk keadaan. Tugas AFNEI pun menyimpang. AFNEI dinilai melindungi kepentingan Belanda hingga akhirnya hal tersebut menimbulkan perlawanan-perlawanan untuk mengusir Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia.
Perjuangan dengan Kekuatan Bersenjata
1. Pertempuran Medan Area
Latar belakang Pertempuran Medan Area adalah dimana saat pasukan NICA dan Inggris melakukan penghinaan dan menginjak-nginjak lencana merah putih yang dimiliki pemuda Indonesia di Hotel di jalan Bali Medan pada 13 Oktober 1945
Brigjen Kelly memberi ultimatum agar pemuda menyerahkan senjatanya kepada sekutu. Namun ultimatum ini tidak dihiraukan oleh pemuda-pemuda Indonesia sebaliknya hal tersebut mengobarkan semangat perlawanan penduduk. Pada 1 Desember 1945 sekutu memasang patok-patok bertuliskan Fixed Boundaries Medan Area dan mendesak rakyat indonesia untuk keluar dari medan. Patok-patok yang sekutu pasang diyakini dapat menghambat gerak pemuda dan TKR terhadap pasukan sekutu.
Pada 10 Desember 1945,pasukan Inggris bersama NICA berusaha menghancurkan konsentrasi TKR di markasnya namun hal ini dapat digagalkan. Sebaliknya justru TKR berhasil menculik perwira Inggris dan menghancurkan truk pasukan inggris. Tak terima dengan perlakuan rakyat Indonesia,sekutu dan NICA menyerang habis-habisan kota Medan yang menimbulkan banyak korban jiwa.
2. Pertempuran Ambarawa
Latar belakang Pertempuran Ambarawa adalah NICA yang dibonceng pasukan Sekutu mempersenjatai bekas tawanan tersebut yang menimbulkan kemarahan rakyat Indonesia. Sekutu melanggar beberapa kesepakatan yang dibuat bersama bangsa Indonesia yaitu Sekutu akan tetap menetapkan pasukannya di Magelang untuk mengurusi para tahanan,Jalan raya antara Magelang dan Semarang tetap terbuka sebagai lalu lintas antara sekutu dengan rakyat Indonesia,dan Sekutu tidak akan mendukung aktivitas NICA.
20 November 1945terjadi pertempuran antara sekutu dengan TKR di Ambarawa. Keesokan harinya pasukan TKR mengepung kota Ambarawa. Pada 26 November 1945 pimpinan TKR Letnan Kolonel Isdiman gugur dan digantikan oleh Soedirman. 12 Desember Soedirman memerintahkan untuk kembali mengepung Ambarawa yang menimbulkan persaingan sengit. Pada 15 Desember 1945,pertempuran berakhir.
3. Pertempuran Surabaya
Latar belakang Pertempuran Surabaya adalah terbunuhnya A.W.S. Mallaby.
Akibat terbunuhnya Mallaby,pemimpin tentara Inggris yang baru Jendral Marsergh mengeluarkan ultimatum berisikan semua rakyat Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya ke tempat yang telah disediakan dan Indonesia sepakat menolak ultimatum tersebut dan siap melawan sekutu. Pada 10 November Inggris menyerang kota Surabaya.
4. Peristiwa Merah Putih di Manado
Latar belakang Peristiwa Merah Putih di Manado adalah ketika sekutu dan NICA berupaya mengukuhkan kembali pemerintahan Belanda di Kota Manado dan melarang pengibaran bendera merah putih di seluruh wilayah Minahasa yang memicu kemarahan rakyat Indonesia.
Konflik pertama terjadi di Tondano dan Tomohon namun rakyat Minahasa terpaksa harus mundur karena kurangnya persenjataan. Untuk memperkuat perlawanan Gubernur Sulawesi Dr. Sam Ratulangi memerintahkan untuk membentuk suatu organisasi yaitu Perjuangan Pusat Keselamatan Rakyat (PPKR). Ia juga memprakarsai penyampaian petisi yang menyatakan bahwa seluruh rakyat Sulawesi mendukung kemerdekaan Indonesia. Rupanya hal tersebut mengakibatkan Dr. Sam Ratulangi ditangkap dan dibuang oleh sekutu ke Serui,Papua.
5. Pertempuran di Bandung
Pada 23 Maret 1946 pejuang Indonesia membumihanguskan Bandung Selatan untuk mencegah tentara sekutu dan NICA menggunakan semua fasilitas sebagai markas strategi militer mereka. Pasukan Inggris tiba di Bandung pada 12 Oktober 1945. Sejak awal kedatangannya hubungan sekutu dengan Indonesia sudah tegang karena pasukan sekutu menuntut agar semua senjata yang dimiliki rakyat Bandung kecuali TKR dan polisi harus diserahkan ke tangan mereka. Namun rakyat Indonesia menghiraukan ultimatum tersebut dan TKR melakukan penyerangan terhadap markas tentara Inggris. Pada 23 Maret 1946 sekutu kembali mengeluarkan ultimatum bahwa kota Bandung harus segera dikosongkan. Ultimatum tersebut mendorong TRI untuk melakukan operasi "Bumi Hangus". Komandan TRI,Kolonel Abdul Haris memerintahkan evakuai penduduk Kota Bandung.
6. Perang Puputan
Latar belakang Perang Puputan adalah hasil perundingan Linggarjati yang mengharuskan Belanda meninggalkan wilayah de facto (Jawa,Madura,dan Sumatera) paling lambat 1 Januari 1949. Tidak masuknya Bali de dalam wilayah de facto,mengakibatkan Belanda datang ke Bali dan memicu kemarahan rakyat Bali.
18 November 1946,pasukan I Gusti Ngurah Rai yang bernama Ciung Wanara berhasil melucuti persenjataan NICA. 20 November 1946 Belanda mencoba balas dendam dengan mencari keberadaan I Gusti Ngurah Rai bersama pasukannya. Merasa terkepung,pasukan Ciung Wanara memilih bertahan dan melakukan aksi tembak-menembak. Karena kurangnya persiapan,pasukan Ciung Wanara kalah dan I Gusti Ngurah Rai gugur dalam pertempuran tersebut di Margana.
7. Perlawanan Rakyat Makassar
Gubernur Sulawesi Dr. Sam Ratulangi membentuk organisasi Pusat Pemuda Nasional Indonesia (PPNI) untuk menampung aspirasi masyarakat yang menentang pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) oleh NICA. Belanda mengirim pasukan pertamanya ke Sulawesi Selatan di bawah pimpinan Westerling dengan membawa misi utamanya yaitu menumpas segala pemberontakan rakyat Makassar yang menentang pembentukan NIT. Pasukan PPNI pun melakukan perlawanan dan berhasil merebut tempat-tempat strategis yang dikuasai NICA. Untuk menumpaskan perlawanan rakyhat Makassar,Westerling menerapkan metode Gestapo yaitu metode kejam yang diterapkan polisi rahasia Jerman dimana setiap orang yang mereka curigai sebagai musuh akan ditangkap dan dibantai. Akibatnya sekitar 40.000 warga sipil yang tidak bersalah dibunuh oleh pasukan Westerling.
Perjuangan dengan Diplomasi
1. Perjanjian Linggarjati
Perujanjian Linggarjati berlangsung pada 10 November 1946 di Linggarjati,Cirebon dan ditandatangani pada 25 Maret 1947. Sisi positif perjanjian ini yaitu mengakui secara de facto wilayah Indonesia yang meliputi Jawa,Madura,Sumatera. Namun sisi negatifnya yaitu pengakuan de facto tidak sesuai dengan luas wilayah Indonesia yang seharusnya meliputi wilayah Sabang sampai Merauke. Isi Perjanjian Linggarjati di antaranya sebagai berikut.
- Belanda mengakui secara de facto RI dengan daerah kekuasaannya meliputi Jawa,Madura,dan Sumatera. Belanda harus meninggalkan wilayah de facto tersebut paling lambar 1 Januari 1949.
- Belanda dan RI bersepakat membentuk negara serikat dengan nama Republik Indonesia Serikat (RI,Timur Besar,Kalimantan)
- Belanda dan RIS sepakat membentuk Uni Indonesia Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketua.
Perjanjian Linggarjati berakhir setelah Van Mook menyampaikan bahwa Belanda tidak lagi terikat dengan perjanjian Linggarjati.
2. Perundingan Renville
- Perundingan Renville dihadiri oleh Delegasi Komisi Tiga Negara diwakili Dr. Frank Grahgam (ketua/penengah AS), Paul Van Zeland (anggota,Belanda - Belgia),dan Richard Kirbi (anggota/Indonesia - Australia) yang bertujuan sebagai penengah konflik Indonesia - Belanda.
- Delegrasi Indonesia diwakili oleh Syarifuddin,Ali Sastroamijoyo,Agus salim,Dr. Leimena,Dr. Coa Tiek Len,dan Mr. Nasrun
- Delegrasi Belanda diwakili oleh abdulkadir Widjojoatmodjo,Van Vradenburg,Dr. Koets,dan Mr. Christian Robbert.
Hasil Perundingan Renville :
- Pihak Indonesia menyetujui dibentuknya Negara Indonesia Serikat.
- Belanda bebas membentuk negara-negara federal di daerah-daerah yang didudukinya.
- Pemerintah Indonesia bersedia menarik pasukannya dan mengosongkan daerah-daerah di belakang Garis van Mook.
Meskipun Perjanjian Renville merugikan Indonesia karena wilayah kekuasaannya berkurang,hal tersebut tidak mengendurkan semangat rakyat untuk merlakukan perlawanan. Bersama TNI dan polisi,rakyat Indonesia melancarkan serangan-serangan ke wilayah yang dikuasai Belanda.
3. Perundingan Roem-Royen
Perundingan Roem-Royen pada 17 April 1949. Isi kesepakatan dalam perundingan Roem-Royen :
- Bersedia memerintahkan"seluruh pengikut Republik yang bersenjata"untuk menghentikan perang gerilya.
- Bersedia bekerja sama dalam menjaga ketertiban,keamanan,dan menjaga perdamaian.
- Bersedia turut serta dalam KMB di Den Haag dengan tujuan mempercrpat "penyerahan" kedaulatan kepada Negara Indonesia Serikat dengan tanpa syarat setelah para pemimpin pemerintahan kembali ke Yogyakarta.
Sementara itu pernyataan dari pihak Belanda adalah :
- Menghentikan aksi militernya dan membebaskan para tahanan politik
- Menyetujui kembalinya Pemerintahan RI ke Yogyakarta.
- Menyutujui RI sebagai bagian dari Negara Indonesia Serikat.
- Berusaha menyelenggarakan KMB.
Agresi Militer Belanda
1. Agresi Militer Belanda I
Setelah Van Mook menyampaikan bahwa Belanda tidak lagi terikat dengan Perjanjian Linggarjati,Belanda melancarkan serangan terhadap wilayah-wilayah yang dikuasai Indonesia. Serangan ini disebut Agresi Militer I yang dimuali pada 21 Juli 1947. Tujuan utamanya adalah merebut daerah-daerah yang kaya dengan sumber daya alamnya. Untuk mengelabuhi dunia Internasioanl Belanda menamakan agresi militer ini sebagai aksi polisional yang seharusnya bertugas untuk mengatasi kekacauan akibat teror dan memulihkan ketertiban di Indonesia.
Agresi Militer Belanda I berakhir pada 17 Agustus 1947 setelah dewan keamanan PBB mengeluarkan resolusi agar Indonesia dengan Belanda melakukan gencatan senjata. Pada 29 Agustus 1947,Belanda secara sepihak memproklamasikan Garis Van Mook secara sepihak yang hanya mencakup Jawa Tengah bagian timur,dikurangi pelabuhan-pelabuhan dan wilayah laut.
2. Agresi Militer Belanda II
Pengepungan kota Yogyakarta menimbulkan kecemasan. Tidak berdiam diri,Indonesia pun mengambil langkah untuk membentuk Pembentukan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di bukittinggi yang diperintahkan pemimpin Indonesia dalam sidang kabinetnya sehari sebelum Soetta diasingkan ke Bangka. Jika PDRI tidak berhasil dibentuk di bukittinggi,PDRI akan dibentuk di India karena Menteri Maramis,L.N. Pallar,dan dr. Soedarsono sedang berada di sana.
Puncak serangan yaitu Serangan Umum 1 Maret 1949 ke kota Yogyakarta sebagai hasil musyawarah para tokoh sipil dan TNI yang bertujuan membuktikan eksistensi Republik Indonesia dan TNI kepada dunia internasional sekaligus mematahkan propaganda Belanda bahwa RI sudah tidak ada lagi. Terdapat 3 alasan penting pemilihan Yogyakarta sebagai sasaran utama yaitu :
- Yogyakarta sebagai ibu kota RI
- Ada banyak wartawan asing di Hotel Merdeka Yogyakarta dan anggota delegasi UNCI(KTN) dan pengamat militer dari PBB. Kesaksian mereka sangat penting bagi Indonesia.
- Semua pasukan memahami dan menguasai situasi dan daerah operasi
Serangan umum 1 Maret mampu menguatkan posisi Indonesia dan mempermalukan Belanda. Indonesia mendapat dukungan dari PBB dan AS. PBB memerintahkan Belanda untuk menghentikan agresinya dan AS mengancam akan menghentikan bantuan bagi Belanda jika Belanda tidak menghentikan agresia. Akhirnya Belanda setuju untuk berunding dengan Indonesia.